Penentuan Puasa Awal Ramadhan ditentukan Melalui Apa?

Awal Ramadhan seolah masih menjadi problem yang masih dibahas setiap tahunnya. Berdasarkan apa yang sudah terjadi di Indonesia, beberapa tahun yang lalu umat muslim mengerjakan ibadah puasa Ramadhan dalam waktu yang tidak bersamaan. Sama juga, umat muslim merayakan idul fitri dalam waktu yang berbeda.

Cara Menentukan Puasa Awal Ramadhan
via nu.or.id

Kenapa terjadi hal demikian? Jawabannya adalah tentu saja karena metode penentuan puasa awal Ramadhan yang mereka gunakan tidaklah sama. Jika Anda bertanya-tanya penentuan puasa awal ramadhan ditentukan Melalui apa, berikut ini adalah pembahasannya.

Cara Menentukan Puasa Awal Ramadhan

Ada 2 cara menentukan puasa puasa awal Ramadhan yang telah ditetapkan oleh syariat, yaitu dengan rukyatul hilal dan dengan hisab. Adapun penjelasan dari kedua cara tersebut adalah sebagai berikut:

1. Rukyatul Hilal

Hilal merupakan cara menentukan puasa awal Ramadhan dengan melihat hilal. Arti kata rukyat adalah melihat bulan secara langsung. Sementara Hilal itu sendiri merupakan fase yang paling awal dari kemunculan bulan, yang berupa garis tipis.

Garis tipis ini bisa dilihat hanya dengan mata telanjang saja, tetapi demi keakuratan hasil, para ulama juga memperbolehkan penggunaan teropong ataupun alat bantu yang lain. Rukyatul hilal ini biasa dilakukan menjelang matahari yang pertama setelah ijtimak.

Apa ijtimak itu? Ijtimak adalah posisi dimana bulan berada di ufuk barat. Jika hilal ini terlihat, maka waktu maghrib tersebut sudah bisa dikatakan sebagai tanggal 1 bulan Ramadhan, dan keesokan harinya kaum muslimin berpuasa.

Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (muttafaq ‘alaih), yang artinya adalah: “Berpuasalah karena melihatnya (hilal), berbukalah karena melihatnya (hilal), jika penglihatan kalian terhalang maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari”.

Hadits tersebut juga sekaligus menjadi pertanda bahwa cara menentukan awal Ramadhan juga bisa dilakukan dengan hisab yang akan dijelaskan kemudian. Cara rukyatul hilal ini menurut pendapat mayoritas imam madzhab atau jumhurul madzhahib bisa dijadikan dasar dalam menetapkan awal bulan Qamariah, terutama Ramadhan, Syawal serta Dzulhijjah oleh pemerintah yang merupakan ulil amri.

Pendapat tersebut tentunya memiliki dasar hukum salah satunya seperti hadits yang telah disebutkan di atas. Dasar hukum yang lainnya juga berdasarkan pada hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa langsung setelah datangnya seseorang yang bersaksi bahwa dirinya telah melihat hilal, bahkan tanpa menanyakan asal orang tersebut.

2. Hisab

Yang menjadi masalah adalah hilal tersebut tidak selamanya bisa terlihat. Dan apabila hal ini terjadi, maka penentuan awal puasa Ramadhan bisa dilakukan dengan cara yang kedua, yakni hisab. Jika hendak dijabarkan, hisab adalah cara untuk menentukan awal bulan Ramadhan dengan jalan menggunakan perhitungan dengan berdasarkan pada ilmu astronomi.

Arti kata hisab sendiri merupakan perhitungan, dan hisab ini juga sering dipakai di dalam ilmu astronomi atau ilmu falak untuk memperkirakan posisi bulan serta matahari terhadap bumi. Posisi bulan ini sangat penting kaitannya dengan mengetahui hilal yang menjadi pertanda masuknya bulan baru di dalam kalender Hijriyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *